Subscribe Us

Kredit Mobil Wuling DP Murah Cicilan Ringan Solusi Punya Mobil

Walaupun mobil termasuk kebutuhan tersier, nyatanya animo masyarakat buat memiliki kendaraan roda empat ini nggak pernah surut. Coba liat angka penjualan mobil selama Agustus rilisan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Selama Agustus aja 90.534 unit mobil terjual. Angka ini naik 62.78 persen dibanding bulan sebelumnya yang ‘cuma’ 55.615 unit.

Hal ini bikin produsen mobil ngebet buat terus menggarap pangsa pasar di semua kalangan dari paling bawah ampe paling atas. Beragam promo ditawarkan buat menggaet konsumen, mulai dari cicilan mobil murah, DP ringan, tenor yang panjang,door prize hingga cash back.


Nah, saat ini pangsa pasar kelas menengah ke bawah yang lagi getol digarap. Selain banyak melansir mobil-mobil murah seharga Rp 80 – 100 juta, saat ini produsen mobil juga sudah membuka peluang buat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan gaji Rp 3 – 5juta.



Perang mobil murah sudah dimulai. Kita sebagai penonton diharapkan bijak untuk memilah produk yang sesuai dengan kantong

But wait, dengan gaji segitu kamu tetap yakin mau beli mobil? Ada banyak pertimbangan kenapa gaji ‘ngepas’ nggak disaranin buat ambil cicilan mobil murah. Coba kita lihat:
Cicilan Mobil Murah Sih, Tapi…
1. Tenor Panjang Banget

“Nggak apa-apalah tenor panjang, yang penting cicilan murah.” Mindset seperti ini kayaknya sudah melekat banget dengan watak orang Indonesia. Daripada sabar menabung buat membayar DP yang lebih besar, orang-orang lebih fokus buat nyari leasing dengan DP termurah.

Dan nggak cuma DP kredit motor aja yang murah, produsen mobil Honda saat ini nawarin DP Rp 10juta aja dengan angsuran mulai dari Rp 1juta.

Tergolong murah, tapi berapa tenornya? Delapan tahun bro!

Delapan tahun bukan waktu yang sebentar lho. Asumsinya, kalau mobil dipakai buat harian, usia rata-rata mobil cuma sampai lima tahun. Kalau lebih dari itu biasanya mobil suka menuntut perawatan lebih dan tentu bikin kantong boncos.

Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selama masa cicilan 8 tahun itu. Dengan gaji ngepas tapi ‘maksa’ buat nyicil mobil, bisa jadi kita sedang menggali kubur sendiri.
2. Gaji Musti Diulik Lagi

Gaji bulanan sejatinya dialokasikan untuk semua kebutuhan primer dulu seperti papan dan pangan. Setelah semua kebutuhan primer terpenuhi, barulah sisa gaji dialokasikan ke hal lain seperti tabungan atau investasi.

Demi menjaga kondisi keuangan tetap stabil, disarankan agar 20 persen gaji kita ditabung untuk dana darurat. Jika kita memutuskan untuk membeli mobil, bukan nggak mungkin 50 persen gaji kita habis cuma buat bayar cicilan. Hal ini tentu bakal mengganggu cash flow bulanan keluarga.
3. Biaya BBM saat Macet Tinggi

Mobil baru menambah kemacetan. Itu bukan lagi sekadar mitos. Dari data Ditlantas Polda Metro Jaya, ada sekitar 4.5 juta mobil yang lalu lalang tiap hari di Jakarta.

Saking macetnya, menurut survei dari aplikasi navigasi sosial Waze kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta cuma 19 km/jam per akhir 2014. Dan diprediksi bahwa kecepatan rata-rata kendaraan nantinya cuma 8 km/jam di 2020. Lebih kenceng naik sepeda dong!



“Hujan bikin tambah macet!” Lho, kok menyalahkan hujan?

Kalau sudah bicara soal macet, mau nggak mau juga ngomongin soal borosnya BBM. Menurut praktisi Eco Driving dari Parma Consultant Heru Sugiarto, konsumsi bahan bakar lebih boros karena kendaraan cuma bisa melaju pada posisi persneling rendah.

Berapa liter BBM yang habis sia-sia di tengah kemacetan? Dari data Data Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kerugian BBM akibat macet di Jakarta sudah mencapai 8 juta kiloliter.

Padahal jika nggak macet, Jakarta paling banter cuma butuh 2.4 juta kiloliter. Jadi bisa dibayangin, berapa duit yang kamu keluarin saat berkendara di tengah kemacetan?
4. Ongkos Rawat Mobil Gede

Nggak mungkin dong ada kendaraan yang bebas perawatan. Semua mesin harus dirawat jika nggak mau menimbulkan masalah. Apalagi jika kendaraanmu dipakai untuk harian.

Jika gaji pas-pasan kamu cuma fokus buat hidup dan bayar cicilan mobil, gimana dengan biaya perawatan mobil? Padahal sejatinya mobil dirawat minimal dua bulan sekali lho.

Oli misalnya, wajib diganti tiap 5 ribu sampai 10 ribu kilometer kalo nggak mau nimbulin masalah. Hal ini belum termasuk jika ada suku cadang yang minta diganti. Yakin masih tetep mau ambil mobil?
5. Biaya Administrasi dan Pajak Gak Murah

Jangan lupa soal pajak dan biaya administrasi lho. Pembelian mobil secara kredit nggak bakal terhindar dari yang namanya biaya-biaya lain macam biaya asuransi, biaya provisi, biaya administrasi, dan angsuran pertama. Belum lagi soal pajak progresif yang lumayan mahal.

Kamu juga harus tahu yang namanya DP Murni dan total DP. DP murni ini biasanya jadi trik buat menggaet calon konsumen. Misalnya, pihak marketing menawarkan DP mobil sebesar Rp 30juta yang merupakan DP murni.

Setelah konsumen setuju buat memboyong mobil tersebut, DP-nya jadi membengkak di angka Rp 41juta. Usut punya usut, selisih Rp 11juta itu adalah biaya-biaya tambahan yang ditambahkan ke DP murni, meliputi biaya administrasi, asuransi dan provisi.
Masih Nggak Percaya Kalau Cicilan Mobil Murah Nggak Cocok buat MBR?

Coba kita sedikit bersimulasi. Si Ujang yang bekerja sebagai buruh pabrik punya gaji Rp 3juta.

Dia sudah punya rumah peninggalan orang tuanya dan cicilan motornya baru lunas awal bulan lalu. Puas sama itu motor, si Ujang pengin jajal naik mobil gara-gara kepincut Honda Brio Satya pas maen ke pameran Indonesia International Motor Show (IIMS).

Langsung deh si Ujang mendatangi booth Honda. Orang marketing menyambut hangat pakai senyum paling lebar ngalahin iklan pasta gigi.

Harga Brio Satya cuma Rp 114 juta. Jika DP minimal adalah 25 persen sesuai peraturan pemerintah, maka Ujang harusnya membayar DP Rp 28.5 juta. Tapi oleh pihak leasing, DP bisa digencet lagi cuma Rp 10juta aja.

Bunga yang ditawarkan oleh pihak leasing cuma 6 persen. Maka perhitungannya adalah:

Harga Mobil: Rp 114.000.000

Down Payment (DP): Rp 10.000.000

Pokok Utang: (Harga – DP): Rp 114.000.000 – Rp 10.000.000 = Rp 104.000.000

Suku Bunga: 6 persen

Tenor: 96 bulan (8 tahun)
Cicilan Mobil Murah tiap Bulan:
Angsuran Sebelum Bunga: (Pokok Utang: Jangka Waktu)

Rp 104.000.000 : 96 = Rp 1.083.333
Angsuran dengan Bunga: (pokok utang x suku bunga per tahun x jumlah tahun kredit) : jumlah bulan kredit

(Rp 104.000.000 x 6 persen x 8) : 96 = Rp 520.000 + Rp 1.083.333 = Rp 1.603.000

Padahal sebaiknya, cicilan minimal nggak boleh lebih dari 30 persen dari gaji. Jika gaji si Ujang hanya Rp 3juta, ia hanya punya Rp 900ribu buat bayar itu cicilan.



Penginnya sih beli mobil buat menampung anggota keluarga. Tapi kalau gaji nggak cukup masa iya mau dipaksain

Dengan cicilan minimal sebesar Rp 1.603.000 juta per bulan, itu berarti sudah lebih dari 50 persen gaji Ujang yang bakal habis cuma buat mengangsur. Bisa juga ‘maksa’ dengan memperbesar DP. Tapi jika dipikir-pikir, lebih baik nabung buat beli mobil atau mulai berinvestasi?

Jadi pikirin mateng-mateng deh sebelum memutuskan memboyong mobil baru. Jika belum butuh-butuh amat, pakai saja moda transportasi yang sudah kamu punya. Meski cicilan mobil murah, mending alokasikan dana buat berinvestasi. wuling jakarta solusinya

Posting Komentar

0 Komentar